Monday, 8 July 2013

HAKIKAT MANUSIA, MASYARAKAT, ALAM, DAN ILMU PENGETAHUAN


Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengmpu :
Dr. Achmad Chudhori, M.Pd.I
Oleh :
MUHAMMAD AMRILLAH




PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI
FEBRUARI 2013



BAB I
PENDAHULUAN
Jika kita mendengar kata filsafat maka konotasi kita akan segera pada sesuatu yang besifat prinsip yang juga sering dikaitkan pada pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai dasar. Pada hakekatnya semua yang ada di alam ini sudah sejak awal menjadi pemikiran dan teka-teki yang tak habis-habisnya diselidiki dan inilah yang menjadi fundamen timbulnya filsafat. Filsafat adalah hasil usaha manusia dengan kekuatan akal budinya untuk memahani secara radikal, integral dan universal tentang hakikat sarwa yang ada (hakekat Tuhan, alam dan hakekat manusia), serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensinya dari pemahamannya tersebut, dan manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan boleh dikatakan ia adalah teka-teki bagai dirinya sendiri, siapakah sebenarnya “aku” ini ? Kalau demikian maka jelaslah bahwa hal ini memerlukan perenungan yang mendalam dan meng-asas pada usaha akal dan pekerjaan pikiran manusia. Karenanya filsafat-lah yang bertugas untuk mencari jawaban dengan cara ilmiah, obyektif, memberikan pertanggungjawaban dengan berdasarkan pada akal budi manusia. Karenanya filsafat itu timbul dari kodrat manusia.
Manusia mempunyai keistimewahan dari makhluk-makhluk yang lain, ia diciptakan oleh Allah SWT begitu sempurna dan kesempurnaan ini manusia dapat meningkatkan kehidupannya. Dengan berpikir atau bernalar, merupakan satu bentuk kegiatan akan manusia melalui pengetahuan yang kita terima melalui panca indra diolag dan ditunjukan untuk diri sendiri dengan manifestasinya, ialah mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukan alasan-asalan, membuktukan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pemikiran, mencari kausalitasnya, membahas secara realitas dan lain-lain. Sesuai dengan makna filsafat, yaitu sebagai ilmu yang bertujuan untuk berusaha memahami semua yang timbul dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia, maka berfilosofis memerlukan suatu ilmu dalam mewujudkan pemahaman tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN MANUSIA SECARA UMUM
Manusia berarti makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain.  Makhluk yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.  Individu mengandung arti seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama.
Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta) atau mens (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin) yang berarti manusia. Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaitu individum, yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas.
Secara kodrati, manusia merupakan makhluk monodualis. Artinya selain sebagai makhluk individu, manusia berperan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan.Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain.[1]

B.  MANUSIA DALAM ISLAM
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan sumtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantuang adanya oleh yang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua subtansi (subtansi= unsur asal sesuatu yanga ada) dua-duanya adalah subtansi alam. Sedang alam adalah mahluk. Maka keduanya juga mahluk yang di ciptakan oleh Allah SWT. Di bawah iani dikutipkan sebuah ayat suci al quran yang menguraikan tentang peruses kejadian manusia dalam surat al Mukminun ayat 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ﴿١٢
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ﴿١٣
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴿١٤
Artinya : dan sesungguhnya kami ciptakan manusia dari sari tanah.kemudian kamijadikan sari tanah itu air mani (terletak) dalam tempat simpanan yang tngguh (rahim). Kemudian dari air mani itu kami ciptakan segumpal darah lalu segumpal darah itu kami ciptakan tulang belulang.kemudian tulang belulang itu kami tutup (balut) dengan daging. Sesudah itu kami jadikan dia mahluk yang baru yakni manusia yang sempurna. Maka maha berkat (suci Allah) penciptaan yang paling baik. ( Al-Qur’an: surat Al-Mukmin:12-14).[2]
Hakikat manusia menurut al-Qur’an ialah bahwa manusia itu terdiri dari unsur jasmani, unsur akal, dan unsur ruhani. Ketiga unsur tersebut sama pentingnya untuk di kembangkan. Sehingga konsekuensinya pendidikan harus di desain untuk mengembangkan jasmani, akal, dan ruhani manusia.
Unsur jasmani merupakan salah satu esensi ( hakikat ) manusia sebagai mana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-baqarah ayat 168 yang artinya “Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dari bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya syuetan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. Akal adalah salah satu aspek terpenting dalam hakikat manusia. Akal digunakan untuk berpikir, sehingga hakikat dari manusia itu sendiri adalah ia mempunyai rasa ingin, mempunyai rasa mampu, dan mempunyai daya piker untuk mengetahui apa yang ada di dunia ini.
Sedangkan aspek ruhani manusia di jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 29:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٢٩﴾
Artinya “Tatkala aku telah menyempurnakan kejadiannya, aku tiupkan kedalamnya ruhku.kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. Dalam hal ini muhammad Quthub menyimpulkan bahwa eksistensi manusia adalah jasmani, akal, dan ruh, yang mana ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan.[3]
C.  PENGERTIAN UMUM MASYARAKAT
Terdapat beberapatokoh yang memberikan pengertian tentang masyarakat, antara lain:
a.       Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial, dan selalu berubah. (Mac Iver dan page)
b.      Masyarakat adalah kesatuan hidup mahluk-mahluk munisia yang terikat oleh satu system adat istiadat tertentu.(koentjaraningrat)
c.       Masyarakat adalah tempat oramg-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.( selo soemardjan dan soelaiman soemardi)
d.      Menurut soerjono soekanto, ada 4 unsur yang tepat dalam masyarakat, yaitu:
a.       Adanya manusia yang hidup bersama
b.      Mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama, yang menimbulkan system komunikasi dan tatacara pergaulan lainnya.
c.       Memiliki kesadaran sebagai satu kesatuan.
d.      Merupakan system kehidupan bersama yang menimbulkan kebudayaan.[4]
D.  HAKIKAT MASYARAKAT DALAM ISLAM DARI AL QUR’AN DAN HADITS
Pengertian masyarakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Kata masyarakat tersebut, berasal dari bahasa Arab yaitu syarikat yang berarti golongan atau kumpulan. Dalam al-Munjid dikatakan bahwa al-syarikat adalah “الإختلاط (bercampur). Selain kata ini, istilah masyarakat dalam bahasa Arab, juga biasa disebut dengan al-mujtama’. Louis Ma’luf menjelaskan arti al-mujtama’ adalah مجازا على جماعة من الناس خاضعين لقوانين ونظم عامة  (suatu kumpulan dari sejumlah manusia yang tunduk pada undang-undang dan peraturan umum yang berlaku).
Sedangkan dalam bahasa Inggeris, kata masyarakat tersebut diistilahkan dengan society dan atau community. Dalam hal ini, Abdul Syani menjelaskan bahwa bahwa masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, memandang community sebagai unsur statis, artinya ia terbentuk dalam suatu wadah/tempat dengan batas-batas tertentu, maka ia menunjukkan bagian dari kesatuan-kesatuan masyarakat sehingga ia dapat disebut masyarakat setempat. Misalnya kampung, dusun atau kota-kota kecil. Kedua, community dipandang sebagai unsur yang dinamis, artinya menyangkut suatu proses yang terbentuk melalui faktor psikologis dan hubungan antar manusia, maka di dalamnya terkandung unsur kepentingan, keinginan atau tujuan yang sifatnya fungsional. Misalnya, masyarakat pegawai, mayarakat mahasiswa.
Secara terminologi, kata masyarakat menurut Kuntjaraningrat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat yang tertentu. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab bahwa masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum, dan hidup bersama.
Selanjutnya, Anderson dan Parker menyatakan sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Phil Astrid. S Susanto bahwa ciri dari masyarakat adalah : adanya sejumlah orang; yang tinggal dalam suatu daerah tertentu (ikatan geografis); mengadakan ataupun mempunyai hubungan satu sama lain yang tetap/tertentu; sebagai akibat hubungan ini membentuk suatu sistem hubungan antar manusia; mereka terikat karena memiliki kepentingan bersama; mempunyai tujuan bersama dan bekerja sama; mengadakan ikatan/kesatuan berdasarkan unsur-unsur sebelumnya; berdasarkan pengalaman ini, maka akhirnya mereka mempunyai perasaan solidaritas; sadar akan interdepedensi satu sama lain; berdasarkan sistem yang terbentuk dengan sendirinya membentuk norma-norma; berdasarkan unsur-unsur di atas akhirnya membentuk kebudayaan bersama hubungan antar manusia.
Berdasar pada pengertian dan ciri masyarakat yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi, ada tujuan dan kepentingan bersama dengan norma-norma yang ada dan dengan kebudayaan bersama.[5]

E.  HAKIKAT ALAM SEMESTA
Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (مة علا, pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan.[6] Dalam bahasa Yunani, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis. Karena alam itu diciptakan dalam keadaan teratur dan tidak kacau. Alam atau cosmos disebut sebagai salah satu bukti keberadaaan Tuhan, yang tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai sumber pokok dan menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.[7]

Istilah alam dalam alqur’an datang dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali yang termaktub dalam 30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk jamak dari keterangan al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran bagi manusia.[8]

Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya Falsafah pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah sesuatu selain Allah Swt.[9]

Dari satu sisi alam semesta dapat didefenisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk), yang dapat diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud Abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa juga dibagi ke dalam beberapa jenis seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat), dan manusia.[10]

Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam menyatakan bahwa alam semesta atau alam jagat ialah selain dari Allah swt yaitu cakrawala, langit, bumi, bintang, gunung dan dataran, sungai dan lembah, tumbuh-tumbuhan, binatang, insan, benda dan sifat benda, serta makhluk benda dan yang bukan benda. Beliau juga menuturkan bahwa sebahagian ulama Islam mutaakhir membagi alam ini kepada empat bahagian yaitu ruh, benda, tempat dan waktu. Sedangkan manusia menjadi salah satu unsur alam semesta sebagai makhluk baharu dengan fungsi untuk memakmurkan alam semesta serta meneruskan kemajuaannya.[11]

Menurut Shihab sebagaimana yang dikutip oleh Al-rasyidin dalam bukunya falsafah pendidikan Islam menerangkan bahwa semua yang maujud selain Allah Swt baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia disebut alam. Kata `alam terambil dari akar kata yang sama dengan `ilm dan `alamah, yaitu sesuatu yang menjelaskan sesuatu selainnya. Oleh karena itu dalam konteks ini, alam semesta adalah alamat, alat atau sarana yang sangat jelas untuk mengetahui wujud tuhan, pencipta yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui. Dari sisi ini dapat dipahami bahwa keberadaaan alam semesta merupakan tanda-tanda yang menjadi alat atau sarana bagi manusia untuk mengetahui wujud dan membuktikan keberadaan serta kemahakuasaan Allah Swt.[12]

Di dalam Al Qur'an pengertian alam semesta dalam arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa".[13] Istilah ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu: Dalam surat maryam ayat 64 dan 65 : 
وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ﴿٦٤ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ﴿٦٥

Artinya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?(65)
Dalam surat ar-rum ayat 22:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ﴿٢٢
Yang artinya: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui”.(Q.S. Ar Rum: 22)

Dalam surat al-anbiya ayat 16:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ﴿١٦
Yang artinya: “Dan tidaklah kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”. (Q.S. al Anbiya: 16)
Dapat ditarik kesimpulan bahwa alam semesta bermakna sesuatu selain Allah Swt, maka apa-apa yang terdapat di dalamnya baik dalam bentuk konkrit (nyata) maupun dalam bentuk abstrak (ghaib) merupakan bahagian dari alam semesta yang berkaitan satu dengan lainnya. Untuk dapat Memahami dan meneliti alam yang kemudian menghasilkan science yang benar, haruslah melalui pendidikan yang benar dan berkualitas. Oleh karena itu, Islam mempunyai ajaran yang sangat penting dalam pendidikan, dalam rangka menghasilkan para scientist, ilmuwan atau ulama, yang kemudian akan memelihara dan memakmurkan alam ini.


F.   KONSEP ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM
1.    Pengertian ilmu pengetahuan
Sepanjang sejarah manusia dalam usahanya memahami dunia sekelilingnya mengenal dua sarana, yaitu pengetahuan ilmiah dan penjelasan gaib kini disatu pihak manusia memiliki sekelompok pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya secara sah, tetapi dipihak lain sebagai pengenal pula aneka keterangan serba gaib yang tidak mungkin di uji sahnya untuk menjelaskan rangkaian peristiwa yang masih berarada diluarjangkauan pemahamannya.
Di antara rentangan pengetahuan ilmiah dan penjelasan gaib itu terdapat persoalan ilmiah yang merupakan kumpulan hipotesis yang dapat di uji, tetapi belum secara sah di buktikan kebenarannya.[14]
Hirarki illustrasi bangunan ilmu pengetahuan di atas menunjukkan bahwa ontology ilmu ditempatkan sebelum epistemology dengan cara mengasumsikan “ada” realitas kemudian ditambahkan epistemology untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Hirarki dari bangunan ilmu pengetahuan tersebut yang dalam istilah Keith Lethrer adalah teori dogmatic epistemology.[15] Konsepsi dari teori ini adalah dengan menempatkan ontology sebelum epistemology.
Selain dari teori dogmatic epistemology terdapat pula teori critical epistemology dimana teori ini merupakan bentuk revolusi dari teori dogmatic epistemology yang dalam prosesnya adalah menanyakan apa yang telah diketahui sebelum menjelaskannya, artinya bahwa teori ini berada pada wilayah mempertanyakan suatu pengetahuan awal secara kritis kemudian diyakini, meragukan sesutu yang  telah “ada” terlebih dahulu sebelum kemudian menjelaskannya setelah terbukti keber”ada”annya, dan berpikir dahulu sebelum meyakini dan atau tidak meyakini kebenarannya.[16] Konsepsi dari teori ini menempatkan wilayah epistemic sebelum ontal atau ontology sebagaimana yang dapat dillustrasikan secara hirarki sebagai berikut:
Subyektifitas dan obyetifitas kebenaran ilmu merupakan hasil dari suatu bangunan ilmu yang memiliki ketergantungan pada kebenaran teori, metode dan cara memperolehnya. teori ilmu yang diterapkan oleh Para filusuf kuno tergolong masih sangat premature dimana mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda dengan menggunakan pertimbagan-pertimbangan empiris atau hasil-hasil pengamatan yang mendalam terhadap entitas-entitas tersebut yang dapat mendukung penjelasan yang satu atau yang lainnya. Mereka mendasaran jawaban mereka sedapat mungkin pada landasan-landasan epistemic dengan mempertimbangkan jenis-jenis apa yang dapat dimengerti secara sungguh-sungguh, sebagaimana halnya yang berdasar pada empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis entitas abadi yang mungkin dapat diperoleh dari dan atau dalam pengalaman.[17]
 Secara umum dapat dinyatakan bahwa prematurisme konsep teori ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para filusuf klasik kuno didasarkan pada lima kemampuan yaitu; (1) Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, (2) pengetahuan dari hasil pengalaman tersebut diterima sebagai suatu fakta dengan sikap receptive mind, dan jika terdapat keterangan-keterang epistemic tentang fakta-fakta tersebut, maka keterangan-keterangan tersebut adalah mitologi (mistis, magis dan religious), (3) kemampuan menemukan abjad dan bilangan alam yang menunjukkan terjadinya tingkat abstraksi pemikiran, (4) kemampuan menulis, menghitung dan menyusun kalender merupakan bentuk sintesis dari hasil abstraksi, (5) kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar a priori seperti hujan, gerhana dan sebagainya.[18]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang ingin menemukan pengetahuan, maka sebagai langka awal dia terlebih dahulu harus mempelajari teori-teori pengetahuan dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali  adalah  menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami. Karena pada prinsipnya ilmu  adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian,[19] artinya fenomena ini baik berupa pengamatan empiric maupun penalaran rasio memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.

2.    Sumber ilmu pengetahuan
Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
a.       Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 – 1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.
b.      Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 – 1650, Baruch Spinoza (1632 – 1677) dan Gottried Leibniz (1646 – 1716).
c.       Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba- tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
d.      Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rosul). Melalui wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau atau pun tidak terjangkau oleh manusia.[20]
3.    Pendekatan dan metode perolehan ilmu pengetahuan
Pada pembahasan terdahulu telah ditegaskan bahwa untuk menemukan sesuatu yang bernama ilmu pengetahuan, maka tujuan dari ilmu pengetahuan tersebut harus ditentukan terlebih dahulu dengan menggunakan berbagai metode dalam memperolehnya. Adapun metode untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan menentukan kebenaran ilmu pengetahuan secara filosofis terdiri dari:
a.    Metode Empirik
Yang dimaksud dengan metode empirik yaitu pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman inderawi dan akal mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman dengan cara induksi.[21]
Dalam metode ini terdapat beberapa unusur yaitu subyek, obyek dan hubungan antara subyek dan obyek.[22] Subyek adalah yang menegatahui atau manusi itu sendiri sebab manusia sejatinya adalah knower dimana dalam diri setiap manusia terdapat kampuan untuk dapat mengetahui (dalam arti luas), kemampuan-kemampuan tersebut adalah; (a) Kemampuan kognitif, yaitu; kemampuan untuk menegtahu –dalam artinya secara luas dan lebih mendalam seperti; mengerti, memahami dan menghayati – dan mengingat apa yang diketahui. Landasan kognitifitas manusia adalah rasio atau akal. Kemampuan kognitif manusia bersifat netral. (b) kemampuan afektif yaitu kemampuan untuk merasakan tentang apa yang diketahuinya seperti rasa cinta, indah dan sebagainya. kemampuan afektif berlandas pada rasa tau qalbu dan disebut pula dengan hati nurani, kemampuan ini bersifat tidak netral. (c) kemampuan konatif yaitu kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan, kemampuan ini menjadi daya dorong untuk mencapai (atau menjauhi) segala apa yang diditekan oleh rasa.[23] Adapun obyek adalah yang diketahui baik bersifat a priori maupun a posteriori dan terakhir adalah proses terjadinya hubungan anatara subyek dan obyek.[24]
Metode ini memberikan arti bahwa seluruh konsep dan idea yang kita anggap benar sesungguhnya bersumber dari pengalaman dengan obyek yang ditangkap oleh panca indera khususnya yang bersifat spontan dan langsung, sehingga dengan metode ini panca indera memiliki peranan penting dalam tiga hal; (a) bahwa seluruh preposisi yang kita ucapkan merupakan bentu manifestasi laporan dari pengalaman atau yang disimpulan pengalaman. (b) bahwa konsep atau idea tentang sesuatu tidak dapat diperoleh kecuali didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. (c) akal budi atau rasio hanya dapat berfungsi jika memiliki acuan realitas.[25] Artinya dengan metode ini dapat dinyatakan bahwa credential (keterpercayaan) konsep ilmiah atau teori apapun bergantung pada suatu tingkat substansi berbasis empiris.[26]
b.    Metode Rasional
Metode Rasional adalah metode yang menjelaskan hubungan-hubungan rasional yang memberi penjelasan ilmiah ciri-khas keterpahaman (intelegibility) yang khas,[27] penggunaan rasio dalam menperoleh pengetahuan menjadi sandaran metode ini dimana akal atau rasio yang memenuhi sayarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang digunakan dalam seluruh metode ilmiah.[28]
Metode ini menjadikan matematika dan ilmu ukur sebagai model bagi pengetahuan manusia, metode ini menunjukkan sebuah penjelasan bahwa dalam diri manusia terdapat idea-idea bawaan tertentu yang telah ada sejak awal yang diperoleh bukan dari pengalaman, artinya bahwa manusia berpikir dalam rangka prinsip-prinsip pertama yang terbukti dengan sendirinya,[29] sebab panca indera dan pengalaman hanya dapat memberi informasi tentang obyek khusus yang terbatas dan tidak tetap sehingga tidak dapat memberi pengetahuan yang bersifat universal.[30]
Jadi, pengetahuan hanya dapat ditemukan dalam dan dengan bantuan akal budi (rasio). Dengan cara ini, maka proses pengetahuan manusia adalah dengan mendeduksikan, menurunkan, pengetahuan-pengetahuan particular dari prinsip-prinsip umum, atau dengan kata lain bahwa pengetahuan manusia harus mulai dari aksioma-aksioma yang telah terbukti dengan sendirinya, dan dari situ ditarik teorema-teorema sedemikian rupa sehingga kebenaran aksioma menjadi kebenaran teorma.[31]
Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa kemampuan akal budi (rasio) manusialah yang dapat digunakan untuk dapat menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum tertentu dalam benaknya. Oleh karenanya logika silogisme menjadi sangat penting dalam menggunakan metode ini.
Fungsi dari kemampuan rasio manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu; higher reason (rasio tertinggi) dan lower reason (rasio terendah), hasil ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dari keduanya berbeda dimana higher reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang berkaitan dengan kekalan yang disebut juga dengan sapientia atau wisdom sementara lower reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang bersifat temporal yang disebut juga dengan scientia atau knowledge.[32]
c.    Metode Kontemplatif
Metode ini memandang bahwa metode empiris dan rasional memiliki keterbatasan, sehingga pengetahuan yang dihasilkan pun berbeda dan masing-masing bersifat temporal, maka untuk menajamkan hasil dari kedua metode tersebut dibutuhkan penajaman kemampuan akal yang disebut intuisi, pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi dapat diperoleh secara kontemplatif.[33]
Metode kontemplatif dalam memperoleh pengetahuan bersifat sangat indivdualistik sebab pengetahuan yang dihasilkannya tersebut adalah pengetahuan yang tercerahkan dari percikan sinar pengetahuan Tuhan (al-h}ikmah al-Ila>hiyyah).[34] Hariri Shrazi menerangkan bahwa intusi (fitrah) bukan semata-mata kolam atau waduk yang menerima penegtahuan, akan tetapi pengetahuan ini murni muncul dari dalam diri manusia itu sendiri dan bukan dari luar, maka mata fitrahlah yang melihat pengetahuan itu dan kemudian lidahnya mengucapkan atau menjelaskan pengetahuan tersebut.[35]
Metode ini tidak hanya dipahami bahwa ilmu pengetahuan yang dihasilkannya bersifat mitologi-spekulatif , tetapi dalam arti yang lebih luas dimana metode kontemplatif menuju kebenaran pengetahuan secara epistemic dapat melalui beberapa tahapan yang didalmnya menjadikan kesadaran empiric-rality dan cognitive-reasion sebagai tahapan awal dengan cara kerjanya yang khas yaitu; (a) empiris inderawi adalah sebagai jalan masuknya sensation dengan merasakan setiap bentuk realitas yang dirasakan dan diamatinya, selanjutnya (b) sensation yang masuk melalui pengamatan dan pengalaman tersebut dikumpulkan, digabungkan, dipilah, dinalar dengan menggunakan kemampuan rasio melalui proses penilaian terhadap obyek fisis yng diketahui melalui penginderaan dan atau pengalaman, tahapan ini selanjutnya disebut dengan tahapan cognition, selanjutnya (c) tahapan yang diberlakukan atas realitas yang telah dikognisikan dalam rasio tersebut kemudian dikontemplasikan dengan eternal truth pada tahapan ini kemudian apa yang dilihat, dirasa dan dipikirkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang disebut dengan intellection.[36] Pada tahapan yang terakhir ini the truth information dan otoritative information (informasi otoritas) memiliki peranan penting untuk kemudian dilakukan dialektika baik itu persifat tekstual, intertekstual, kontektual maupun interkontekstual yang dapat membatu menghasilkan kesimpulan pada ranah truth knowledge.
d.   Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan salah satu acara atau prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, dimana ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi tentang cara bekerja pikiran yang diharapkan mempunyai karakteristik tertentu berupa sifat rasional dan teruji sehingga ilmu yang dihasilkan bisa diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun pengetahuan. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesuaian dengan objek yang dijelaskannya, dengan didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Metode rasional yang digabungkan dengan metode empiris dalam langkah menuju dan dapat menghasilkan pengetahuan inilah yang disebut metode ilmiah. Jadi, metode ilmiah dianggap sebagai metode terbaik untuk mendapatkan pengetahuan karena metode ini menggunakan pendekatan yang sistematis, obyetif, terkontrol, dan dapat diuji, yang dilakukan melalui metode empiris maupun rasional atau dengan kata lain dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip induktif dan dedutif.
Penggabungan anatara metode rasional dan empiris dilakukan dengan menggunkan langkah-langkah oprasional yang disebut metode ilmiah dimana dalam metode ini rasionalitas menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sementara empiris memisahkan anatara fakta yang sesuai dengan yang tidak. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa seluruh bentuk teori yang dapat diterima secara ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yaitu; (a) memiliki konsistensi a prioriative yang memungkinkan tidak terjadinya kontaradiksi dalam teori keilmuan secara umum, (b) harus sesuai dan sejalan dengan fakta-fakta empiris,[37] artinya bahwa teori dalam scientific knowledge (ilmu pengetahuan ilmiah) merupakan sekumpulan preposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan penjelasan tentang sejumlah fakta dan fenomena[38] dimana hubungan-hubungan antar preposisi tersebut dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena agar dapat diberlakukan secara universal pada fenomena lain yang sejenis dengan proses yang demikian dapat menghasilkan sebuah prinsip ilmiah dimana sebuah preposisi yang mengandung kebenaran umum didasarkan pada fakta dan fenomena yang telah diamati.[39]
Dalam pandangan Ahmad Tafsir bahwa metode ilmiah tidak datang dengan sesuatu yang baru, tetapi hanya mengulangi ajaran positivisme secara lebih oprasional, dimana dalam ajaran positivisme menyatakan bahwa kebenaran sesuatu harus bersifat logis, terbukti secara empiris, dan terukur secara oprasional, kuantitatif dan tidak mengundang perbedaan pendapat. Dengan demikian metode ilmiah harus melalui langkah yang disebut logico-hypothetico-verivicartive dengan mula-mula membuktikan bahwa hal tersebut logis, kemudian mengajukan hipotesis terhadap logika tersebut, kemudian melakukan pembuktian hipotesis tersebut secara empiris.[40]
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan secara ilmiah harus melalui prosedur-prosedur khusus. Adapun kata kunci dari prosedur-prosedur tersebut adalah; (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan teori atau epistemik, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematis, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, (l) kontemplatif.
4.      Etika penggunaan ilmu (aksiologi)
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Unutuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan di susun dan dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berrti ilmu merupakan pengetehuan yng menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhanya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideology, atau agama.[41]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam mengetahuhi dan memahami secara filosofis tentang hakikat manusia, masyarakat, alam, dan ilmu pengetahuan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      pengertian manusia secara umum
Manusia berarti makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain.  Makhluk yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.  Individu mengandung arti seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama.
2.      manusia dalam Islam
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan sumtansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantuang adanya oleh yang lain.
3.      pengertian umum masyarakat
Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial, dan selalu berubah.
4.      hakikat masyarakat dalam Islam
Pengertian masyarakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Kata masyarakat tersebut, berasal dari bahasa Arab yaitu syarikat yang berarti golongan atau kumpulan.
5.      hakikat alam semesta
Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (مة علا, pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah.
6.      konsep ilmu pengetahuan dalam Islam
a.       pengertian ilmu pengetahuan
b.      sumber ilmu pengetahuan
c.       pendekatan dan metode perolehan ilmu pengetahuan
d.      etika penggunaan ilmu (aksiologi)

DAFTAR PUSTAKA
Adib Muhammad. Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2010.
Al-Gazali, diterj. Masyhur Abadi. Setitik Cahaya dalam Kegelapan. Surabaya: Progressif. 2002.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press. 2010.
Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty. 2010.
Gunawan, Ary H. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2010.
Ihsan, A. Fuad.Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010. 194.
Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. 1992.
Rasyidin, Al Falsafah. Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi Praktik Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media Perintis. 2008.
Ravertz Jerome R.  The Philosophy of Science. Oxford University Press. 1982.
Rita Hanafi, Soetrion.  Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian .Yogyakarta: ANDI. 2007.
Suhartono,Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2008.
Surajio.  filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia.Jakarta: PT Bumi aksa. 2007.
Surajiyo.  Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
Tafsir, Ahmad Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2010.
terj Hasan Langulung, Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Zar, Sirajuddin. Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam Sains dan AlQur’an. Jakarta: RajaGrafindo Perkasa. 1999.
Zuhairini, Dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1995.
Andre Winoto, Augistine’s Theory of  Knowledge (www.buletinpillar.org. Diakses 21 Februari 2013.
Harismubarak.blogspot.com/2012/11/masyarakat-madani-dalam-alquran.html diakses pada tanggal 16 Februari 2013.
http://www.slideshare.net/dhany94/filsafat-ilmu-12224373 di akses pada tanggal 26 Februari 2013



[2] Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 75-76.
[4] Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), 4.
[5] harismubarak.blogspot.com/2012/11/masyarakat-madani-dalam-alquran.html  
[6] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. Ke-1, hal. 289
[7] ibid
[8] Sirajuddin Zar, Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an (Jakarta: RajaGrafindo Perkasa, 1999),  19.
[9] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi Praktik Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), 3.
[10] Al-Rasyidin, Ibid., 4.
[11] Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 58.
[12] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah kutipan Al-Rasyidin, Op Cit., 4-5.
[13] Al-Rasyidin, Ibid.
[14] Surajio, filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: PT Bumi aksa, 2007), 55.
[15] Muhammad Adib, Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), 76. Selanjutnya ditulis Adib, Filsafat Ilmu…
[16] Ibid., 77.
[17] Jerome R Ravertz, The Philosophy of Science (Oxford University Press, 1982) diterj. Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingup Bahasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 92-93. Yang selanjutnya ditulis Jerome, The Philosophy of Science…
[18] A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 194. Yang selanjutnya ditulis A.Fuad, Filsafat Ilmu…
[19] Jujun, Filsafat Ilmu…113
[20] http://www.slideshare.net/dhany94/filsafat-ilmu-12224373 di akses pada tanggal 26 Februari 2013
[21] Surajiyo, Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 66. Induksi atau induktif adalah cara kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan atau eksperimen untuk sampai kepada pengetahuan yang umum tak terbantahkan, pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan a posteriori. Lihat. A. Soni Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta : Kanisus, 2001), 55. Selanjutnay ditulis Keraf, Ilmu Pengetahuan…
[22] Adib, Filsafat Ilmu…, 75.
[23] Soetriono dan Rita Hanafi, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: ANDI, 2007), 101-102.
[24] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 61. Metode ini dapat berubah menjadi lebih  ekstrim apabila dipahami bahwa satu-satunya yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan jika kebenarannya dapat dilacak dan diklarifikasi secara empiric. Pemahaman semacam ini dapat mengarah kepada bentuk “Empirisme Radikal”.
[25] Keraf, Ilmu Pengetahuan…, 49-50.
[26] Jerome, The Philosophy of Science…135.
[27] Ibid., 136.
[28] Surajiyo, Ilmu Filsafat…, 66.
[29] Keraf, Ilmu Pengetahuan …, 47.
[30] Ibid.
[31] Ibid., 48.
[32] Andre Winoto, Augistine’s Theory of  Knowledge (www.buletinpillar.org, diakses 21 Februari 2013.
[33] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta : Rajawali Press, 2010), 155.
[34] Al-Gazali, diterj. Masyhur Abadi, Setitik Cahaya dalam Kegelapan (Surabaya: Progressif, 2002), 32.
[35] Muhyiddin Hairi Shirazi, Mans Dual Inclination; An Islamic Approach. Diterj. Eti Triana dan Ali Yahya, Tikai Ego dan Fitrah (Jakarata: Al-Huda, 2010), 71.
[36] Andre Winoto, Augistine’s Theory of  Knowledge (www.buletinpillar.org, diakses 21 Februari 2013.
[37] Jujun, Filsafat Ilmu …, 124.
[38] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2010), 145.
[39] Ibid., 144.
[40] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 32-33.
[41]Surajio, filsafat ilmu… 152.

ARTIKEL TERKAIT:

Reaksi:
Categories:


Bagaimana menurut anda blog ini? Bila anda menyukai artikel ini, saya akan sangat senang sekali jika anda bersedia memberikan g +1 ataupun me-Share artikel ini dengan menyertakan linknya.Terima kasih kunjungan anda. follow me in twitter gos faj

mencapai potensi yang maksimal

Daftar Bacaan

Google+ Followers

Followers