Monday, 4 June 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkawinan dalam Islam adalah suatu akad atau perjanjian yang mengikat antara laki-laki dan perempuan untuk menghalalkan hubungan biologis antara kedua belah pihak dengan sukarela berdasarkan syari’at Islam. Kerelaan kedua belah pihak merupakan suatu modal utama untuk mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga ysng diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara diridhoi Allah SWT. Islam memandang dan menjadikan perkawinan itu sebagai basis suatu masyarakat yang baik dan teratur, sebab perkawinan tidak hanya dipertalikan oleh ikatan lahir saja, tetapi juga dengan ikatan batin.
Islam mengajarkan bahwa perkawinan itu tidaklah hanya sebagai ikatan biasa seperti perjanjian jual beli atau sewa-menyewa dan lain-lain, melainkan merupakan suatu perjanjian suci, dimana kedua belah pihak dihubungkan menjadi suami istri atau menjadi pasangan hidup dengan mempergunakan nama Allah SWT.[1]

B.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hak dan kewajiban suami terhadap istri?
2.      Bagaimana hak dan kuwajiban suami istri?











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hak dan Kewajiban Suami  Terhadap Istri
islam mewajibkan suami terhadap isterinya memberikan hak-hak yang harus dipenuhinya sebagai hak istri.
Hak suami tercermin dalam ketaatanya, menghomati keinginannya, dan mewujudkan kehidupan yang tenang dan nikmat sebagaimana yang diinginkan.
 Hak-hak yang tercermin dalam kebahagiannya dengan makna pernikahan dan perasaan istri. Jauh dari kecelakaan dan kebencian. Menjauhkannya akibat permusuhan dan keterpaksaan sehingga rumah tidak menjadi tubuh bagai di depan neraka jahim, sulit dalam pekerjaan, menghabiskan segenap usaha, kemudian tidak terdapat kebahagiaan dan ketenagan di dalamnya.
Bagi istri hendaknya mengetahui suaminya dengan penghormatan dan kemuliaan. Ia menggatikan suami dalam usaha dan pemberian. Melindungi suaminya dari kesusahan dan kekacauan. Ia tidak berusaha menentang ucapan suaminya, merendahkannya, dan mengikuti keinginanya. Ia mengikuti pendangannya, dan ikut merasakannya dengan keingkaran dan mengingkarinya.
Hak-hak suami terhadap istrinya yang diwajibkan oleh Islam memungkinkan perempuan melaksanakan tanggung jawabnya yang pokok dalam rumah dan masyarakat. Memberi kemampuan bagi laki-laki untuk membangun  rumahnya dan keluargannya.[2]
1.      Hak suami atas istri.
Diantanyanya ada beberapa hak suami terhadap isteri yang paling pokok adalah:
a.       Ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat.
b.      Istri menjaga dirinya sendiri dan harta suami.
c.       Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami.
d.      Tidak bermuka masam dihadapan suami.
e.       Tidak menunjukkan keadaan yang tidak disenagi suami.
2.      Kewajiban suami terhadap istri.
Dalam kompilasi hukum islam, kewajiban suami terhadap istri dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
a.       Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tannganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.
b.      Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
c.       Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberikan kesempaatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, dan bangsa.
d.      Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung:
a)      Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri.
b)      Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan pengobatan bagi isti dan anak.
c)      Biaya pendidikan bagi anak.
3.      kewajiban istri terhadap suami.
Diantara beberapa kewajiban istri terhadap suami adalah sebagai berikut:
a.       Taat dan patuh pada suami.
b.      Pandai mengambil hati suami melalui makanan dan minuman.
c.       Mengatur rumah denggan baik.
d.      Menghomati keluarga suami.
e.       Bersikap sopan, penuh seyum kepada suami.
f.       Tidak mempersulit suami, dan selalu mendorong suami untuk maju.
g.      Ridha dan syukur terhadap apa yang diberikan suami.
h.      Selalu berhemat dan suka menabung.
i.        Selalu berhias, bersolek  di hadapan suami.
j.        Jangan selalu cemburu buta.[3]

B.     Hak dan kuwajiban Suami Istri

Jika suami dan istri sama-sama menjalankan tanggung jawabnya masing-masiang, maka akan terwujud ketentraman dan ketenangan hati sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga. Dengan demikian, tujuan hidup berkeluagga akan terwujud sesuai dengan tuntunan agama, yaitu sakinah, mawaddah warahmah.
1)      Hak bersama Suami Istri
Dengan adanya akad nikah, maka antara suami dan istri mempunyai hak dan tanggug jawab secara bersama, yaitu sebagai berikut:
a.      Suami dan istri dihalalkan bergaul mengadakan hubungan seksual. Perbuatan ini merupakan kebutuhan antara suami istri yang dihalakan secara timbal balik. Bagi suami halal melakukan apa saja terhadap istrinya, demikian pula bagi istri terhadap suaminya. Mengadakan kenikmatan hubungan merupakan hak suami istri yang dilakukan secara bersamaan
b.      Haram melakukan pernikahan, artinya baik suami maupun istri tidak boleh melakukan pernikahan dengan saudaranya masing-masing.
c.       Dengan adanya ikatan pernikahan, kedua  belah pihak saling mewarisi apabila salah seorang di antara keduanya telah meninggal meskipun belum bersetubuh.
d.      Anak mempunyai nasab yang jelas.
e.       Kedua pihak wajib bertingkah laku dengan baik sehingga dapat melahirkan kemesraan dalam kedamaian hidup.[4]
2)      Kewajiban Suami Istri
Dalam kompilasi hukum Islam disebutkan bahwa, kewajiban suami istri, adalah sebagai berikut:
a.     Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
b. Suami istri wajib saling mencintai, menghomati, setia, dan memberi bantuan lahir batin.
c. Suami istri memikul kewajiban mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai  pertumbuhan jasmani maupun kecerdasannya, serta pendidikan agamanya.
d. Suami istri wajib memelihara kehomatannya.
e. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama.[5]














                                     


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
 Hak suami tercermin dalam ketaatanya, menghomati keinginannya, dan mewujudkan kehidupan yang tenang dan nikmat sebagaimana yang diinginkan.
 Hak-hak yang tercermin dalam kebahagiannya dengan makna pernikahan dan perasaan istri. Jauh dari kecelakaan dan kebencian. Menjauhkannya akibat permusuhan dan keterpaksaan sehingga rumah tidak menjadi tubuh bagai di depan neraka jahim, sulit dalam pekerjaan, menghabiskan segenap usaha, kemudian tidak terdapat kebahagiaan dan ketenagan di dalamnya.
Bagi istri hendaknya mengetahui suaminya dengan penghormatan dan kemuliaan. Ia menggatikan suami dalam usaha dan pemberian. Melindungi suaminya dari kesusahan dan kekacauan. Ia tidak berusaha menentang ucapan suaminya, merendahkannya, dan mengikuti keinginanya. Ia mengikuti pendangannya, dan ikut merasakannya dengan keingkaran dan mengingkarinya.
Jika suami dan istri sama-sama menjalankan tanggung jawabnya masing-masiang, maka akan terwujud ketentraman dan ketenangan hati sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga. Dengan demikian, tujuan hidup berkeluagga akan terwujud sesuai dengan tuntunan agama, yaitu sakinah, mawaddah warahmah.







Untuk download Daftar Pustaka bisa klik dibawah ini:


ARTIKEL TERKAIT:

Reaksi:
Categories:


Bagaimana menurut anda blog ini? Bila anda menyukai artikel ini, saya akan sangat senang sekali jika anda bersedia memberikan g +1 ataupun me-Share artikel ini dengan menyertakan linknya.Terima kasih kunjungan anda. follow me in twitter gos faj

mencapai potensi yang maksimal

Google+ Followers

Followers